Minggu, 09 Oktober 2011

Membuat Tabel Baru

Berikut setelah Database telah selesai dibuat, kita lanjutkan dengan membuat tabel pada database yang baru tersebut.
Masih pada panel Server Explorer, klik kanan pada ‘Tables’ dan pilih ‘Add New Table’. Masukkan data-data berikut:
KdBarang, Tipe: nvarchar(10), PRIMARY KEY, NOT NULL < Menyimpan kode dari tiap barang
NmBarang, Tipe: nvarchar(50), NOT NULL < Menyimpan nama barang
Jumlah, Tipe: smallint, Default: 0, NULL < Menyimpan jumlah dari tiap barang
Harga, Tipe: money, Default: 0, NULL < Menyimpan data dari harga barang











































Tentukan KdBarang sebagai PRIMARY KEY. Klik kanan pada bagian KdBarang dan pilih ‘Set Primary Key’, akan muncul tanda berbentuk kunci di sebelah kiri KdBarang.

Klik tombol ‘Save’ dan beri nama ‘tblBarang’. Tabel baru kita telah jadi, berikutnya kita akan mulai menulis suatu class untuk mengatur koneksi database dan proses-proses CRUD terhadap tabel ‘tblBarang’.
Sebelum lanjut membuat Class, kita akan menambah sedikit pengaturan untuk project ini. Yang akan ditambahkan adalah pengaturan untuk ConnectionString (String koneksi yang akan digunakan agar bisa terhubung dengan Database DataBarang).
Pilih menu ‘Project > DataBarang Properties’. Masuk ke Tab ‘Settings’ dan masukkan ConnectionString pada kolom ‘Name’ dengan Type String dan Scope pilih Application. Pada bagian Value, isikan string koneksi berikut dan klik tombol Save untuk menyimpan :
Data Source=(local)\SQLEXPRESS;Initial Catalog=DataBarang;Integrated Security=True
 

Minggu, 02 Oktober 2011

(BATU GANTUNG) Hanging Stone Di Parapat

(BATU GANTUNG) Hanging Stone Di Parapat
Jalan Raya Lintas Sumatera (Jalinsum) bagian barat yang menghubungkan Kota Medan dengan Kota Padang. Selain sebagai objek wisata yang eksotis, Parapat juga merupakan sebuah kota yang melegenda di kalangan masyarakat di Sumatera Utara. Dahulu, kota kecil ini merupakan sebuah pekan yang terletak di tepi Danau Toba. Setelah terjadi suatu peristiwa yang sangat mengerikan, tempat itu oleh masyarakat diberi nama Parapat atau Prapat.  Dalam peristiwa itu, muncul sebuah batu yang menyerupai manusia yang berada di tepi Danau Toba. Menurut masyarakat setempat, batu itu merupakan penjelmaan seorang gadis cantik bernama Seruni. Peristiwa apa sebenarnya yang pernah terjadi di pinggiran kota kecil itu? Kenapa gadis cantik itu menjelma menjadi batu? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Batu Gantung berikut ini!.
Alkisah,di sebuah desa terpencil di pinggiran Danau Toba Sumatera Utara, hiduplah sepasang suami-istri dengan seorang anak perempuannya yang cantik jelita bernama Seruni. Selain rupawan, Seruni juga sangat rajin membantu orang tuanya bekerja di ladang. Setiap hari keluarga kecil itu mengerjakan ladang mereka yang berada di tepi Danau Toba, dan hasilnya digunakan untuk mencukupikebutuhan sehari-hari.
Pada suatu hari, Seruni pergi ke ladang seorang diri, karena kedua orang tuanya ada keperluan di desa tetangga. Seruni hanya ditemani oleh seekor anjing kesayangannya bernama si Toki. Sesampainya di ladang, gadis itu tidak bekerja, tetapi ia hanya duduk merenung sambil memandangi indahnya alam Danau Toba.
Sepertinya ia sedang menghadapi masalah yang sulit dipecahkannya. Sementara anjingnya, si Toki, ikut duduk di sebelahnya sambil menatap wajah Seruni seakan mengetahui apa yang dipikirkan majikannya itu. Sekali-sekali anjing itu menggonggong untuk mengalihkan perhatian sang majikan, namun sang majikan tetap saja usik dengan lamunannya.
Memang beberapa hari terakhir wajah Seruni selalu tampak murung. Ia sangat sedih, karena akan dinikahkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pemuda yang masih saudara sepupunya. Padahal ia telah menjalin asmara dengan seorang pemuda pilihannya dan telah berjanji akan membina rumah tangga yang bahagia. Ia sangat bingung. Di satu sisi ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, dan di sisi lain ia tidak sanggup jika harus berpisah dengan pemuda pujaan hatinya. Oleh karena merasa tidak sanggup memikul beban berat itu, ia pun mulai putus asa.
“Ya, Tuhan! Hamba sudah tidak sanggup hidup dengan beban ini,” keluh Seruni. Beberapa saat kemudian, Seruni beranjak dari tempat duduknya. Dengan berderai air mata, ia berjalan perlahan ke arah Danau Toba. Rupanya gadis itu ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Danau Toba yang bertebing curam itu.
Sementara si Toki, mengikuti majikannya dari belakang sambil menggonggong. Dengan pikiran yang terus berkecamuk, Seruni berjalan ke arah tebing Danau Toba tanpa memerhatikan jalan yang dilaluinya. Tanpa diduga, tiba-tiba ia terperosokke dalam lubang batu yang besar hingga masuk jauh ke dasar lubang. Batu cadas yang hitam itu membuat suasana di dalam lubang itu semakin gelap. Gadis cantik itu sangat ketakutan. Di dasar lubang yang gelap, ia merasakan dinding-dinding batu cadas itu bergerak merapat hendak menghimpitnya.
“Tolooooggg……! Tolooooggg……! Toloong aku, Toki!” terdengar suara Seruni meminta tolong kepada anjing kesayangannya.
Si Toki mengerti jika majikannya membutuhkan pertolongannya, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali hanya menggonggong di mulut lubang. Beberapa kali Seruni berteriak meminta tolong, namun si Toki benar-benar tidak mampu menolongnnya. Akhirnya gadis itu semakin putus asa.
“Ah, lebih baik aku mati saja daripada lama hidup menderita,” pasrah Seruni.
Dinding-dinding batu cadas itu bergerak semakin merapat. “Parapat! Parapat batu… Parapat!” seru Seruni menyuruh batu itu menghimpit tubuhnya..
Sementara si Toki yang mengetahui majikannya terancam bahaya terus menggonggong di mulut lubang. Merasa tidak mampu menolong sang majikan, ia pun segera berlari pulang ke rumah untuk meminta bantuan. Sesampai di rumah majikannya, si Toki segera menghampiri orang tua Seruni yang kebetulan baru datang dari desa tetangga berjalan menuju rumahnya.
“Auggg…! auggg…! auggg…!” si Toki menggonggong sambil mencakar-cakar tanah untuk memberitahukan kepada kedua orang tua itu bahwa Seruni dalam keadaan bahaya.
“Toki…, mana Seruni? Apa yang terjadi dengannya?” tanya ayah Seruni kepada anjing itu.
“Auggg…! auggg…! auggg…!” si Toki terus menggonggong berlari mondar-mandir mengajak mereka ke suatu tempat.
“Pak, sepertinya Seruni dalam keadaan bahaya,” sahut ibu Seruni.
“Ibu benar. Si Toki mengajak kita untuk mengikutinya,” kata ayah Seruni.
“Tapi hari sudah gelap, Pak. Bagaimana kita ke sana?” kata ibu Seruni.
“Ibu siapkan obor! Aku akan mencari bantuan ke tetangga,” seru sang ayah. Tak lama kemudian, seluruh tetangga telah berkumpul di halaman rumah ayah Seruni sambil membawa obor. Setelah itu mereka mengikuti si Toki ke tempat kejadian. Sesampainya mereka di ladang, si Toki langsung menuju ke arah mulut lubang itu. Kemudian ia menggonggong sambil mengulur-ulurkan mulutnya ke dalam lubang untuk memberitahukan kepada warga bahwa Seruni berada di dasar lubang itu.
Kedua orang tua Seruni segera mendekati mulut lubang. Alangkah terkejutnya ketika mereka melihat ada lubang batu yang cukup besar di pinggir ladang mereka. Di dalam lubang itu terdengar sayup-sayup suara seorang wanita: “Parapat… ! Parapat batu… Parapat!”
“Pak, dengar suara itu! Itukan suara anak kita! seru ibu Seruni panik.
“Benar, bu! Itu suara Seruni!” jawab sang ayah ikut panik.
“Tapi, kenapa dia berteriak: parapat, parapatlah batu?” tanya sang ibu.
“Entahlah, bu! Sepertinya ada yang tidak beres di dalam sana,” jawab sang ayah cemas.
Pak Tani itu berusaha menerangi lubang itu dengan obornya, namun dasar lubang itu sangat dalam sehingga tidak dapat ditembus oleh cahaya obor.
“Seruniii…! Seruniii… !” teriak ayah Seruni.
“Seruni…anakku! Ini ibu dan ayahmu datang untuk menolongmu!” sang ibu ikut berteriak.
Beberapa kali mereka berteriak, namun tidak mendapat jawaban dari Seruni. Hanya suara Seruni terdengar sayup-sayup yang menyuruh batu itu merapat untuk menghimpitnya.
“Parapat… ! Parapatlah batu… ! Parapatlah!”
“Seruniiii… anakku!” sekali lagi ibu Seruni berteriak sambil menangis histeris.
Warga yang hadir di tempat itu berusaha untuk membantu. Salah seorang warga mengulurkan seutas tampar (tali) sampai ke dasar lubang, namun tampar itu tidak tersentuh sama sekali. Ayah Seruni semakin khawatir dengan keadaan anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyusul putrinya terjun ke dalam lubang batu.
“Bu, pegang obor ini!” perintah sang ayah.
“Ayah mau ke mana?” tanya sang ibu.
“Aku mau menyusul Seruni ke dalam lubang,” jawabnya tegas.
“Jangan ayah, sangat berbahaya!” cegah sang ibu.
“Benar pak, lubang itu sangat dalam dan gelap,” sahut salah seorang warga.
Akhirnya ayah Seruni mengurungkan niatnya. Sesaat kemudian, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Bumi bergoyang dengan dahsyatnya seakan hendak kiamat. Lubang batu itu tiba-tiba menutup sendiri. Tebing-tebing di pinggir Danau Toba pun berguguran. Ayah dan ibu Seruni beserta seluruh warga berlari ke sana ke mari untuk menyelamatkan diri. Mereka meninggalkan mulut lubang batu, sehingga Seruni yang malang itu tidak dapat diselamatkan dari himpitan batu cadas.
Beberapa saat setelah gempa itu berhenti, tiba-tiba muncul sebuah batu besar yang menyerupai tubuh seorang gadis dan seolah-olah menggantung pada dinding tebing di tepi Danau Toba. Masyarakat setempat mempercayai bahwa batu itu merupakan penjelmaan Seruni yang terhimpit batu cadas di dalam lubang. Oleh mereka batu itu kemudian diberi nama “Batu Gantung”.
Beberapa hari kemudian, tersiarlah berita tentang peristiwa yang menimpa gadis itu. Para warga berbondong-bondong ke tempat kejadian untuk melihat “Batu Gantung” itu. Warga yang menyaksikan peristiwa itu menceritakan kepada warga lainnya bahwa sebelum lubang itu tertutup, terdengar suara: “Parapat… parapat batu… parapatlah!”Oleh karena kata “parapat” sering diucapkan orang dan banyak yang menceritakannya, maka Pekan yang berada di tepi Danau Toba itu kemudian diberi nama “Parapat”.
Parapat kini menjadi sebuah kota kecil salah satu tujuan wisata yang sangat menarik di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Demikian cerita tentang asal-usul nama kota prapat. Cerita di atas termasuk cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah akibat buruk dari sifat putus asa atau lemah semangat. Sifat ini tercermin pada sikap dan perilaku Seruni yang hendak mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Danau Toba yang bertebing curam, namunia justru terperosok ke dalam lubang batu dan menghimpitnya hingga akhirnya meninggal dunia

Kopi termahal

KOPI LUWAK LINTONG

APAKAH KOPI LUWAK?



Kopi luwak merupakan salah satu dari jenis
kopi yang berasal dari biji kopi yang
sebelumnya sudah dimakan dan masuk
kedalam pencernaan hewan bernama luwak.
Kopi ini dikenal sudah sejak lama dan awal
mulanya terjadi ketika perkebunan kopi
dibuka besar-besaran saat pemerintahan
Hindia Belanda hingga tahun 1950-an, saat itu
masih banyak ditemukan binatang luwak
yang sejenis musang. Luwak ini suka sekali
mencari biji-bijian yang cukup bagus
termasuk biji kopi untuk dimakan. Luwak
sangat menggemari biji kopi dari buah kopi
yang paling baik, sesudah dimakan dan
dikeluarkan dengan kotorannya, yang
sebelumnya difermentasikan dalam saluran
pencernaan luwak. Biji kopi ini, dulu sering
dicari dan diminati para petani kopi, karena
mereka yakin bahwa biji kopi tersebut berasal
dari biji kopi terbaik serta telah
difermentasikan alami. Dan berdasarkan
keyakinan, rasa kopi luwak ini sangat
berbeda dan terasa spesial dikalangan
penggemar dan penikmat kopi.
Luwak termasuk dalam family Viverridae
(Civets Family) yang terdiri dari beberapa
genus antara lain : Viverra, Prionodon,
Paradoxurus, dan Arctictis. Atau dalam bahasa
lokal disebut Bunga Ihur , lamun lamun
(Batak toba).
Hampir semua Jenis Luwak terutama Genus
Paradoxurus dan Arctictis mampu
memproduksi kopi luwak. Beberapa species
luwak terdapat di Asia tenggara, tetapi yang
menghasilkan kopi terbaik adalah luwak asal
Indonesia (Paradoxurus Hermaphrodirus)
yang habitat utamanya berada di hutan-hutan
pulau sumatra dan Jawa.
T e n t a n g Ko p i l uwa k ( h t t p : / /
id.wikipedia.org/wiki/Kopi_luwak)

KOPI LUWAK LINTONG

Kopi luwak lintong adalah kopi luwak yang
kopinya dimakan dari buah kopi lintong
arabica salah satu kopi tebaik di dunia (Salah
satu coffee speciaty dari Indonesia) .
Petani kopi luwak lintong mengumpul kopi
luwak dari sekitar kebun organik di
kabupaten Humbanghaundutan dimana
kopi lintong tumbuh dengan sangat bagus,
karena punya iklim dan ketinggian yang
sangat cocok untuk pertumbuhan kopi
lintong.
Petani kopi luwak lintong adalah kumpulan
petani kopi lintong yang mengumpul dan
menangkar kopi luwak dari Kabupaten
Humbanghasundutan

VISI DAN MISI

1. Untuk mempromosikan Kopi lintong
sebagai salah satu produk primadona
dari kabupaten Humbanghasundutan
dengan mempersembahkan kopi
luwak lintong untuk masyarakat
banyak.
2. Untuk menambah income dari petani
kopi dengan mengumpul dan
beternak kopi luwak
3. Untuk melestarikan ekosistem dan
kelangsungan hidup dari luwak yang
semakin langka, karena perburuan
besar -besaran untuk dimakan
dengan beternak luwak dan
membudidayakannya.

PRODUKSI

Petani Kopi luwak Lintong secara
tradisionil memungut kotoran luwak di
sekitar kebun kebun organik di kabupaten
Humbanghasundutan.memprosesnya secara
tradisional sampai kebubuk kopi
luwak. Untuk menjamin keasiannya Petani kopi
luwak Lntong Cuma memiih kolektor kopi
luwak yang bisa dipercaya, kerena keaslian dari
kopi luwak itu sendiri ditentukan oleh petani
yang mengumpul dari alam.
Seiring dengan permintaan dari pembeli
semakin banyak, Petani kopi luwak lintong
juga berusaha untuk menangkar kopi luwak liar
dengan memberi makanan kopi yang hanya
diambil dari kebun kopi organik dan dengan
memberi makanan /buah asli yang sering
dimakan di hutan sekitar kebun kopi seperti,
Pisang, Tiung, Nangka, Nenas.
Petani kopi luwak Lintong sangat ketat dalam
hal kwalitas pemprosesan. Proses kopi luwak
lintong hasil kumpulan dari Alam dan hasil
tangkaran dipisahkan.
Dan saat ini produksi kopi luwak lintong masih
terbatas, terutama dari luwak liar, karena
sulitnya mengumpulnya dari alam.

Petani Kopi luwak Lintong memproduksi :

1. Biji Kopi Luwak Kering /
Greenbean (Grade 1-Air 12%)
2. Biji Kopi gonseng / Roasted
Bean (Medium Roast, French
roast)
3. Bubuk Kopi kasar /Drip Coffee
4. Bubuk Kopi halus/Powder Coffee

Sejarah marga sihombing

Lumbantoruan merupakan salah satu marga dari suku Batak, diwarisi oleh semua yang bermarga Lumbantoruan, baik lelaki maupun wanita dari garis keturunan Bapak secara turun-temurun. Lumbantoruan yang pertama bergelar BORSAK SIRUMONGGUR, merupakan anak kedua dari Sihombing yang mempunyai 4 orang anaklaki-laki dengan urutan sebagai berikut:
  1. Silaban gelar Borsak Junjungan
  2. Lumbantoruan gelar Borsak Sirumonggur
  3. Nababan gelar Borsak Mangatasi
  4. Hutasoit gelar Borsak Bimbinan.
Marga yang diwarisi oleh keturunan masing-masing adalah Silaban, Lumbantoruan, Nababan, dan Hutasoit. Keempat gelar tersebut sering dipakai sebagai nama perkumpulan marga oleh keturunan yang bersangkutan di perantauan, atau sebagai nama nenek moyang dari marga yang bersangkutan. Misalnya marga Lumbantoruan, pomparan (keturunan) dari Borsak Sorumonggur.
Perlu dicatat bahwa mayoritas orang yang bermarga Lumbantoruan memakai marga Sihombing, sedangkan yang bermarga Silaban, Nababan, dan Hutasoit hanya sedikit yang memakaimarga Sihombing.
Mengingat keturunan dari masing-masing marga telah banyak jumlahnya, maka sejak puluhan tahun yang lalu telah disepakati oleh keturunan dari empat bersaudara: Silaban, Lumbantoruan, Nababan, dan Hutasoit untuk boleh saling mengawini. Artinya,lelaki dari masing-masing marga ini boleh mengawini perempuan marga lainnya dari kelompok empat marga yang bersaudara tersebut. Persetujuan nikah tersebut di dalam upacara tastas bombong.
MENGAPA MARGA ITU PERLU?
Sejak dulu Orang Batak telah mempunyai marga. Marga memegang peranan dalam adat istiadat, budaya, pergaulan, dan kehidupan sosial di lingkungan masyarakat Batak, khususnya dalam rangka melaksanakan falsafah Dalihan na Tolu. Selama- orang masih mengaku dirinya sebagai Orang Batak ia akan tetap memerlukan marganya di dalam penyelenggaraan adat istiadat, budaya, dan tata krama pergaulan di dalam masyarakat, sekalipun ia hidup di perantauan.
Selain itu, marga yang diwarisi secara turun temurun itu dapat berfungsi sebagai family name, yang umumnya pada banyak bangsa di dunia ini diwariskan kepada keturunannya. J adi, marga itu –umpanya Lumbantoruan– dapat berfungsi sebagai salah satu identitas.
SEJAK KAPAN MARGA LUMBANTORUAN ITU ADA?
Di dalam kehidupan sosial dan pergaulan Orang Batak, masing-masing orang yang semarga perlu mengetahui silsilah dan nomor silsilah masing-masing. Kenapa silsilah perlu diketahui adalah untuk membedakan teman semarga yang kita hadapi itu apakah merupakan haha doli (abang) atau anggi doli (adik). Sedangkan gunanya mengetahui nomor silsilah adalah agar kita mengetahui apakah teman semarga yang kita hadapi itu termasuk golongan Bapak, Kakek, Anak, atau Cucu.
Nomor silsilah nenek moyang kita, Borsak Sorumonggur adalah nomor 1. Nomor silsilah anaknya adalah nomor 2, sedangkan cucunya adalah nomor 3, demikian seterusnya. Apabila seorang memiliki silsilah bemomor 15, maka ia akan menyebut marga Lumbantoruan bemomor silsilah 14 sebagai Bapak dan yang bemomor silsilah 16 sebagai Anak.
Dengan memperhatikan nomor silsilah bermarga Lumbantoruan di Jabodetabek, nomor silsilah generasi Lumbantoruan yang hidup sekarang bervariasi, mulai dari nomor 14 sampai dengan nomor 19. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa marga Lumbantoruan sudah ada sejak sekita 3 - 4 abad yang silam.
DI MANAKAH TEMPAT BERMUKIM MARGA LUMBANTORUAN?
Semula, Sihombing bermukim di Pulau Samosir. Mungkin untuk memperoleh ruang hidup yang lebih baru dan lebih baik ia bersama keempat anaknya: Silaban, Lumbantoruan,
Nababan, dan Hutasoit pindah ke Tipang, seberang Danau Toba. Tipang terletak di pantai, selatan Danau Toba, pada tanah pesisir yang sempit, dikelilingi perbukitan yang cukup, tinggi di sebelah selatan, tidak jauh dari Bakara –tempat pemukiman Raja Sisingamangaraja.
Keluarga Sihombing beserta anak-anaknya cepat berlipat ganda di Tipang, hal yang membuat lahan persawahan dan pertanian yang terasa kurang. Oleh sebab itu, sebagian
keturunan Sihombing bermigrasi (pindah) ke dataran tinggi, atau disebut juga Humbang, Semula, keturunan Lumbantoruan mendirikan kampung dekat Lintongnihuta, namanya, Sipagabu. Dari Sipagabu inilah secara bertahap keturunan Lumbantoruan berpencar dii daerah Humbang, yaitu:
a) Lintongnihuta dan sekitarnya
b) Bahalbatudansekitarnya
c) Sibaragas dan sekitarnya
d) Sipultak dan sekitarnya
e) Butar dan sekitarnya.
Di tiga daerah pertama bermukim keturunan Hutagurgur Lumbantoruan, anak sulung Lumbantoruan. Di Butar dan sekitarnya bermukim keturunan Toga Hariara Lumbantoruan, anak kedua (bungsu) dari Lumbantoruan. Di keempat daerah tersebut marga Lumbantoruan merupakan mayoritas ketimbang marga-mara yang lain. Selain di empat daerah itu, keturunan Lumbantoruan juga berbaur dengan Silaban, Nababan, dll
Hutasoit di luar Humbang, persisnya di sekitar Pahae yang berbatasan dengan Angkola. Di Tipang sendiri sampai sekarang masih tinggal bermukim sekelompok Lumbantoruan keturunan Mambirjalang, dalam hal ini Pareme dan Nasorasabat.
Perlu juga diketahui tempat pemukiman ketiga marga keturunan Sihombing (Silaban, Nababan, dan Hutasoit) di Humbang, yaitu:
1. Silaban di Silabanrura, Butar
2. Nababan di Nagasaribu, Lumban Tonga-tonga Paniaran, Sipariama, dan Lumban Motung dan sekitarnya.
3. Hutasoit di Siborong-borong, Butar, Lintongnihuta, dan sekitarnya.
Untuk beberapa abad, persawahan dan pertanian di tempat pemukiman Lumbantoruan masih terasa cukup. Akan tetapi, seiring dengan percepatan pertumbuhan keturunan Lumbantoruan yang cepat berlipat ganda, persawahan dan pertanian pun semakin terbatas. Sejak itulah keluarga-keluarga Lumbantoruan bermigrasi ke tempat lain. Pada masa Perang Kemerdekaan, perpindahan keluarga-keluarga Lumbantoruan makin meningkat ke daerah Sumatera Timur. Secara bertahap hingga sekarang keluarga-keluarga Lumbantoruan (terlebih generasi mudanya) banyak yang pindah ke tempat lain, tersebar hingga ke kota-kota besar dan pulau-pulau lainnya.
Akibatnya sekarang, banyak kampung di Humbang, daerah asal Lumbantoruan, mayoritas penduduknya adalah orang-orang yang sudah tua. Banyak para pemuda meninggalkan kampung halamannya untuk sekolah atau untuk memperoleh hidup yang lebih baik. Di Jakarta, mereka mempunyai Parsadaan (perkumpulan) yang diberi nama Parsadaan Borsak Sirumonggur Sihombing Lumbantoruan Dohot Boru & Bere Se�Jabotabekdep dan sekitarnya.
SIAPAKAH YANG BERMARGA LUMBANTORUAN?
Yang bermarga Lumbantoruan adalah :
1. Pada dasarnya semua orang, lelaki dan wanita, yang mewarisi marga tersebut melalui garis bapaknya.
2. Semua perempuan non-Batak yang sudah diberi (diampehon) marga boru Lumbantoruan melalui proses adat atas permintaanya sendiri dan (calon) suaminya. Suaminya adalah bere dari salah satu keluarga Lumbontoruan, atau anak atau keturunanya dari saudara perempuannya.
3. Semua lelaki non-Lumbantoruan yang diadopsi oleh salah satu keluarga Lumbantoruan.
BAGAIMANA PEREMPUAN ATAU LELAKI NON-LUMBANTORUAN BISA MENJADI LUMBANTORUAN?
Seperti dikemukakan di atas sudah makin banyak keluarga Lumbantoruan yang berdomisili jauh dari daerah asal nenek moyangnya. Dalam situasi yang demikian perkawinan antar suku, bahkan antar bangsa tak terhindarkan. Oleh Sebab itu sudah makin banyak pemuda Lumbantoruan yang menikah dengan perempuan dari suku non-Batak.
Demikian pula para bere dari Lumbantoruan, yaitu anak atau keturunan dari ibu (boru) Lumbantoruan. Dalam hal ini banyak bere dari Lumbantoruan, yang bersama calon isterinya memohon kepada keluarga Lumbantoruan terdekat untuk memberi (mangampehon) marga kepada sang (calon) isteri tersebut . Dengan demikian praktis keluarga Lumbontoruan tersebut “harus” mengadopsi perempuan non-Batak dimaksud menjadi anaknya putrinya atas restu ketiga unsur marga sesuai dalihan na tolu.
Dengan pemberian marga itu, maka :
1. Bere itu mempunyai Hula-hula
2. Anaknya mempunyai Tulang
3. Cucunya mempunyai Bona Tulang
4. Anak cucunya mempuyai Bona ni Ari
Hal yang sama bisa terjadi pada lelaki non-Lumbantoruan, bisa menyandang marga Lumbantoruan melalui proses memberi (mangampehon) marga atas permintaan pihak
keluarga (calon) isteri lelaki dari suku non-Batak tersebut. Hanya memang, peristiwa ini sangat jarang, karena prosedumya lebih ketat dan memerlukan pertimbangan yang lebih matang. Dengan demikian terjamin hak dan kewajibannya dalam adat istiadat orang Batak sampai tiga keturunan.

Pahlawan Batak

Raja Sisingamangaraja

Lembah Bakara Tempat Istana Sisingamangaraja
Raja Sisingamangaraja XII adalah salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia Sumatera Utara yang dengan semangat memperjuangkan dan melawan  Belanda di Sumatera Utara khususnya di daerah Tapanuli. Dengan penuh keberanian dan semangat yang tinggi perjuangan Raja Sisingamangaraja mendapat dukungan dari masyarakat Tapanuli, sehingga membuat Belanda merasa kewalahan.

Semangat yang begitu tinggi menyebabkan Raja Sisingamangaraja XII beserta keluarganya dikejar-kejar, bahkan benteng perjuangan (istana) yang berada di Bakkara dihancurkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1883.

Walaupun benteng pertahanan di Bakkara telah dihancurkan, namun tidak menyurutkan perjuangan Raja Sisingamangaraja XII beserta keluarga dan pengikut-pengikutnya sampai pada titik darah penghabisan, yang pada akhirnya pada tanggal 17 Juni 1907 Raja Sisingamangaraja XII yang bergelar Patuan Bosar Ompu Pulau Batu tewas tertembak dan sampai pada saat ini peninggalan dari perjuangan Sisingamangaraja masih banyak terdapat di daerah Bakara yaitu :

1. Istana Sisingamangaraja

Istana SisingamangarajaIstana Sisingamangaraja ini memiliki luas sekitar 100 m x 100 m, dan dalam istana tersebut terdapat tiga buah rumah yang disebut dengan rumah bolo, sopo parsaktian dan sopo bolon. Dalam lokasi tersebut terdapat juga makam Sisingamangaraja ke-IX dan ke-XI dan pada kompleks ini banyak terdapat berbagai bangunan-bangunan peninggalan sejarah berupa tempat pemujaan dan lain-lain.





2. Batu Siungkap-ungkapon

Batu Siungkap-ungkapon (Batu Panungkunan Boni)Di sekitar istana Sisingamangaraja tepatnya di sebelah kiri pintu masuk istana terdapat juga peninggalan sejarah yang bernama batu siungkap-ungkapan atau batu panungkunan boni yang konon menurut cerita dari masyarakat setempat, bahwa batu itu digunakan sebagai tempat penyembahan (mohon petunjuk) jika petani hendak turun ke sawah. Hal ini dilakukan supaya nantinya hasil panen dapat baik dan melimpah.




3. Tongkat Sisingamangaraja

Pohon Hariara (Tongkat Sisingamangaraja)

Peninggalan yang tidak kalah penting untuk diperhatikan ialah Pohon Hariara yang terletak di Desa Sinambela Kec. Bakti Raja. Konon katanya pohon ini adalah Tongkat dari Raja Sisingamangaraja yang ditancapkan di tanah dan sampai sekarang tumbuh subur di daerah tersebut. Pohon ini sudah berusia ratusan tahun dan sangat dihargai oleh masyarakat setempat, tetapi masyarakat setempat masih kurang memahami dan tidak memiliki pengetahuan tentang pelestarian budaya peninggalan sejarah. Hariara adalah sejenis pohon yang menyerupai pohon beringin dan pohon hariara ini banyak terdapat di daerah Pulau Samosir. Tongkat Raja Sisingamangaraja ini memiliki ukuran yang sangat besar yang memiliki tinggi kurang lebih 50 meter dan diameter batangnya kira-kira 5 meter.





4. Tombak sulu-sulu (Goua)

Jalan Menuju GouaTobbak Sulu-sulu (Goua)

Didesa Bakara Kec. Bakti Raja Kab. Humbanghasundutan ini juga terdapat peninggalan Sisingamangaraja yang disebut dengan Tombak Sulu-sulu (Goua). Keberadaan goua ini kira-kira 500 meter dari hunian masyarakat setempat dan belum dilakukan pelestarian yang maksimal. Konon menurut cerita dari masyarakat setempat Goua ini adalah tempat martonon (bertenun) dari Ibunda Raja Sisingamangaraja dan juga merupakan persembunyian Raja Sisingamangaraja agar terhindar dari pemburuan Belanda. Sampai saat ini masyarakat setempat masih menganggap tempat tersebut sebagai tempat yang keramat atau sakral karena menurut cerita masyarakat, di tempat itu masih bersemayam panglima dan ibunda dari Raja Sisingamangaraja.


5. Tapak Kaki Gajah Raja Sisingamangaraja
Tapak kaki gajah Sisingamangaraja

Tapak kaki gajah Raja Sisingamangaraja merupakan peninggalan sejarah yang bernilai tinggi yang sampai saat ini masih merupakan pertanyaan bagi masyarakat yang mengunjungi tempat tersebut. Konon menurut cerita dari masyarakat setempat, Raja Sisingamangaraja menunggangi seekor gajah dan pada titik tertentu gajah tersebut menginjak tanah yang mengakibatkan keluarnya air yang sangat besar dan air yang mengalir sangat jernih juga bersih. Sampai saat ini air tersebut dipercaya oleh masyarakat dapat membawa berkah dan mengobati berbagai macam penyakit. Oleh karena pentingnya air tersebut, masyarakat membenahi lokasi tersbut dan membuat penampungan berupa kamar mandi kecil agar para pengunjung dapat menikmati air yang berasal dari Tapak Gajah Raja Sisingamangaraja yang bersih, jernih dan sejuk.

Di desa Bakkara ini sangat banyak peninggalan sejarah khususnya peninggalan Raja Sisingamangaraja dan di samping itu lokasi tersebut sangatlah indah, sejuk dan nyaman untuk dikunjungin dan bagi anda yang hendak berkunjung ke tempat itu pasti anda akan merasa puas dan akan membawa kesan yang baik sekembalinya anda dari tempat tersebut.

kasih orang tua


Ingat..: "Kasih MAMA dan PAPA Kita":, tidak akan bisa kita balas sampai kapan pun, baik dengan harta maupun yg lain, tapi dengan membuat Mereka tersenyum, dan merasa Bangga memiliki anak seperti Kita, maka utang kita kepada mereka akan mereka anggap lunas....

Betapa SUCI-Nya hati mereka....

dan kau akan sadar tentang itu...
...

mama...,
papa...,
Jika Tuhan Berkehendak...
Aku cuma memohon satu Permintaan Kepada-Nya...
Tuhan...
Tolong lh izinkan aku melihat ( mereka ) tersenyum...
atas semua yg Engkau Berikan padaku....
DAN
Jangan lh biarkan mereka menangis atas perbuatan anak-nya...
tapi biarlah mereka menangis atas kesuksesan anak yg telah Engkau titipkan kepada mereka...